Refleksi Rasa Syukur Kepada Allah

 Allah Subhanahu Wata'ala berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu, yaitu orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak berdzikir kepada Allah."
(QS. Al Ahzab: 21)

390 hari Engkau sehat 5 hari Engkau sakit, Engkau mengatakan ini cobaan apa Yaa Allah....

388 hari Engkau bahagia 7 hari Engkau bersedih, lantas Engkau mengatakan semua ini tidak *adil!* 

*Apakah kamu tidak malu sudah berapa banyak nikmat yang Allah berikan kepadamu, sudah berapa banyak kebahagiaan yang Allah berikan kepadamu, tidakkah kamu bersyukur?*

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

(QS. Ibrahim: 7)

Allah Subhanahu Wata'ala mengingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman akan nikmat yang telah dikaruniakan kepada mereka, berupa pengutusan Nabi Muhammad sebagai rasul kepada mereka yang membacakan ayat-ayat Allah Ta’ala kepada mereka secara jelas dan menyucikan mereka dari berbagai keburukan akhlak, jiwa, segala perbuatan kaum Jahiliyah, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju dunia yang terang benderang, mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah), dan mengajarkan kepada mereka apa yang tidak mereka ketahui.

Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kamu dustakan?

(QS. Ar-rahman: 16)

Sekarang coba kamu pikirkan sudah berapa banyak peristiwa yang kamu lalui hingga saat ini, berapakah usia-mu sekarang?  ke manakan masa muda-mu selama ini? Sudahkah Engkau mensyukuri nikmat Tuhan-mu? Apakah mungkin hari yang berlalu itu tidaklah kamu pikirkan sampai selama ini? Apa yang membuat hati-Mu terlalaikan atas nikmat dan karunia Rabb-Mu yang diberikan kepada-Mu selama ini? Tidakkah terbesit didalam hatimu bahwa semua ini terjadi karena Allah. Mengapa Engkau melalaikan Rabb-Mu, padahal Rabb-Mu itu tidak pernah melupakanmu. Tidakkah terlintas dipikiranmu bahwa disaat Engkau ditimpa musibah Engkau memohon kepada-Nya berserah diri kepada-Nya, meminta ampun, pertolongan-Nya atas musibah yang menimpa-mu. Apa yang membuat-mu lalai?.

Apabila seseorang manusia ditimpa kesusahan, dia akan berdo'a kepada kami dalam keadaan berbaring, duduk, ataupun berdiri tetapi setelah kami hapuskan kesusahan itu daripada-Nya, dia terus dengan cara lamanya seolah-olah ia tidak pernah berdo'a kepada kami memohon dihapuskan kesusahan yang menimpanya. Demikianlah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang mereka selalu lakukan. 

(QS. Yunus: 12)

Sesungguhnya orang-orang yang menyayangi-Mu ialah orang yang sering melarang dan orang yang paling perhatian adalah yang tidak pernah lelah mengingatkan dalam hal kebaikan. Jika ada diantara kalian bingung akan sebuah pilihan, maka pilihlah yang lebih mendekatkan kamu kepada Rabb-Mu.

Sesungguhnya segala sesuatu yang disampaikan dari hati In Syaa Allah akan sampai pula kehati, yakin dan percayalah atas ketetapan dan takdir Allah, ingat janji Allah itu benar adanya, sesekali bacalah terjemahannya (Al-Qur'anul kariim) ia jauh lebih melembutkan hati, begitu banyak perkataan-perkataan Allah, janji-janji Allah didalamnya bagi hamba-Nya yang beriman kepada-Nya.

Maka ingatlah kepada-ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-ku. 

(QS. Al-Baqarah: 152)

Ayat ini sesuai dengan hadits shahih yang dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

(رواه البخاري، رقم 7405 ومسلم، رقم 2675 )

“Allah Ta’ala berfirman, 'Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." 

(HR bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675)


Wallahu a'alam.

Comments